Sudahkah Keluarga Kita Siaga Menghadapi Ancaman Bencana?

bpbd.bantulkab.go.id – Tanggal 26 April setiap tahunnya diperingati secara Nasional sebagai Hari Kesiapsiagaan Bencana  (HKB). Dalam situasi pandemik saat ini, dengan tidak mengurangi esensi dan tujuan peringatan HKB, BPBD Kabupaten bersama dengan Forum Pengurangan Risiko Bencana Kabupaten Bantul telah menyelenggarakan peringatan HKB tersebut dengan Apel Siaga Relawan Penanggulangan Bencana se Kabupaten Bantul. Apel tersebut sebagai upaya untuk menginventarisasi kekuatan Sumber Daya Manusia dalam Penanggulangan Bencana di Kabupaten Bantul.

Namun demikian, Kekuatan Sumber Daya Manusia terbesar yang harus disiapkan adalah, seluruh masyarakat Bantul teredukasi dan memahami bagaimana melakukan upaya mencegah dan mengurangi  Ancaman, Pengurangan Risiko Bencana, Penanganan Darurat dan Pemulihan Pasca Bencana. Hal tersebut yang kemudian menjadi dasar pemikiran bahwa minimal dalam satu keluarga terdapat satu Sumber Daya Manusia yang mampu menjadi Leader, Supporter dan Educater (Menjadi Contoh, mendukung dan mengedukasi) dalam hal Penanggulangan Bencana.

Gerakan Keluarga Siap Tanggap Tangguh atau yang dikenal dengan akronim Keluarga SiTaTang, merupakan gerakan yang terus digaungkan kepada masyarakat seluruh indonesia pada umumnya dan masyarakat Bantul pada khususnya.

Simak beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjadikan keluarga kita keluarga yang Siaga dalam menghadapi ancaman bencana

  1. Mengenali dan memahami potensi ancaman bencana dlingkungannya. (Taukah anda, bahwa Kabupaten bantul memiliki 9 ancaman bencana? Gempa Bumi, Tsunami, Banjir, Tanah Longsor, Kekeringan, Kebakaran, Cuaca Ekstrim, Gelombang Ekstrim dan Abrasi serta Wabah Penyakit)
  2. salah satu anggota keluarga memiliki ketrampilan pertolongan pertama (Pemberian pertolongan pertama akan menentukan kondisi korban selanjutnya, jadi hati-hati memberikan pertolongan pertama tanpa memilki ilmunya)
  3. menerapkan struktur dan penataan rumah yang aman (gempa bumi tidak membunuh, bangunan dan penataan interior rumah yang tidak baik yang menimbulkan kerusakan dan korban)
  4. memahami sistem peringatan dini setempat (beda tempat, beda ancaman tentunya beda pula sistem peringatan dininya, cari tahu sistem peringatan dini yang ditetapkan jika kita memasuki wilayah baru)
  5. menyepakati titik kumpul untuk kondisi darurat (ini penting untuk menghindari perpisahan anggota keluarga karena panik dalam penyelamatan diri)
  6. memasang rambu jalur evakuasi (pilih jalur evakuasi yang aman dan mudah diakses )
  7. menyepakati tugas masing-masing anggota keluara saat terjadi bencana (Dalam situasi panik, mungkin akan bingung apa yang harus dialkukan, tapi apabila ini sudah disiapkan, akan membantu dalam upaya penyelamatan)
  8. menyimpan nomor-nomor telpon darurat (Simpan nomor telpon bantuan emergency 112 dan bantuan lain yang penting )
  9. menyiapkan tas siaga bencana (siapkan 1 tas yang dapat memuat senter, makanan kering tahan lama, minuman, baju, sedikit uang, surat berharga, jas hujan, masker, perlengkapan kebersihan dan obat-obatan pribadi, dan taruh ditempat yang aman tapi mudah dijangkau)
  10. berpartisipasi aktif dalam upaya pengurangan risiko bencana (ini penting, lebih baik mengurangi risiko bencana dari pada memulihkan kerugian karena besarnya dampak bencana)

Ingat, beberapa ancaman bencana yang ada disekitar kita adalah ancaman yang tidak dapat diprediksi kejadiannya, jadi, kenali ancamannya, kurangi risikonya ! (Rofi)

Tags:
author

Author: 

Related Posts

Tinggalkan Balasan